Jumat, 28 Desember 2012

Natal Dalam Bingkai Islam Dan Indonesia


Sungai waktu yang mengalir deras kini kembali menghantarkan kita kepenghujung tahun di bulan Desember, yang sekaligus membawa kita menuju tahun baru, serta akan membawa kaum Kristiani kepada peringatan Natal (25 Desember). Membicarakan tahun baru Masehi di Negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam tentunya tidak akan menjadi masalah, kecuali bagi segelintir orang yang masih saja menganggap tahun Hijriah menjadi harga mati bagi umat Islam.
Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang bukan saja tidak menjadi masalah, namun juga ikut dirayakan oleh mayoritas Muslim Indonesia, peringatan Natal justru masih saja dianggap sebagai “binatang buas” yang mampu memangsa hidup-hidup akidah umat Islam.  “binatang buas” tersebut menjelma kedalam sebuah kalimat “Selamat Hari Natal” yang konon katanya jika diucapkan Muslim, maka dapat mencabik-cabik akidahnya. Apakah mungkin akidah yang merupakan sebuah hal yang dianggap penting pundamental sedemikian rapuhnya sehingga dengan mudah tercabik hanya karena sebuah kalimat?.
Imam Ahmad bin Hambal menilai bahwa ucapan selamat (tahniah) kepada umat lain adalah hal yang dibolehkan. Prof.DR. Hamka Haq menambahkan bahwa pembolehan tersebut tentunya dengan menjaga agar penyampaian tidak bersifat sinkretis, yakni pencampur adukan keimanan. Dengan demikian, pemilihan kalimat yang bersifat umum, yang dapat dipahami dan diterima oleh umat lain dalam menjaga harmonisasi kehidupan bersama, disamping tetap berada dalam bingkai aqidah Islam tentunya tidaklah menjadi persoalan.
Terlepas dari sejarah yang dituduhkan atau mungkin benar terjadi perihal asal-usul peringatan Natal, namun Natal yang hari ini diperingati kaum Kristiani adalah sebagai peringatan mereka atas kelahiran Yesus, yang dalam Islam dikenal sebagai Nabi Isa as. Al-Qur’an sendiri dalam surat al-Shaffat ayat 181 mengucapkan selamat atas para Rasul Tuhan yang tentunya juga bagi Nabi Isa  “wasalam ‘ala al-mursalin” (dan selamatlah atas Rasul-rasul Tuhan). Bahkan ucapan “selamat Natal” pernah diucapkan sendiri atasnya oleh nabi Isa yang tertuang dalam QS.19;33 “dan selamat atasku, pada hari aku dilahirkan (dinatalkan), pada hari wafatku, dan pada hari kebangkitanku kembali”.
Dengan demikian jelaslah mengucapkan selamat Natal bagi seorang muslim sepanjang itu sebagai bentuk penghargaan terhadap diri Yesus (Nabi Isa), sebagai anak manusia pilihan Tuhan, tentulah tidak masalah, apalagi sampai menciderai akidah. al-Qur’an yang selama ini kita yakini sebagai pedoman hidup, haruslah dipahami dengan jujur, cerdas dan obyektif, serta lepas dan jauh dari segala macam kepentingan baik pribadi maupun kelompok, serta dendam masa lalu. dengan begitu Islam sebagai rahmat bagi alam, akan dapat benar-benar terwujud dibumi ini.
Selanjutnya, terlepas dari bingkai Islam, bahwa Natal merupakan bahagian dari hari besar bangsa Indonesia adalah sesuatu yang tak terbantahkan, karena membantahnya sama dengan membantah apa yang telah diatur Negara. Dengan demikian tanggung jawab untuk ikut menjaga keamanan dan ketertiban serta keharmonisan saat berlangsungnya Natal harusnya juga menjadi tanggung jawab penduduk bangsa dengan tidak memandang latar belakang agama. Islam, Hindu, Budha dan Konghucu bahkan atheis sekalipun jika merasa bahagian dari bangsa ini juga ikut bertanggung jawab untuk menjaganya. Sebagai bahagian dari bangsa majemuk, anak bangsa harus bisa bersikap Profesional dan Proporsional. Anak bangsa juga harus bijak untuk menempatkan diri sebagai bangsawan dan agamawan sesuai waktunya. Untuk itu menyikapai Peringatan natal yang sebentar lagi tiba, diperlukan kesadaran seluruh masyarakat bangsa untuk bisa menjadi seorang bangsawan yang siap mengawal keamanan, ketertiban dan keharmonisan bangsanya, termasuk kegiatan Natal yang juga merupakan bahagian dari hari besar Indonesia.
Dengan saling menjaga antar sesama penganut agama dibawah payung Bangsa, diharapkan mampu memperkecil lobang yang bisa dimasuki para penyusup yang siap mempropaganda keharmonisan umat beragama di bangsa ini. Bukankah esensi dari kehadiran islam di muka bumi merupakan “rahmatan lil’alamin”, rahmat bagi seluruh alam tanpa memandang ras, warna kulit dan agama. Perbedaan agama bukanlah sesuatu yang lantas bisa menghancurkan harmonisasi hidup berbangsa dan Negara. Dengan sikap toleran dan saling menjaga antar sesama penganut agama, Indonesia sebagai bangsa akan mampu berdiri lebih tegak. Bahkan islam sendiri melalui Hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Syaibah dan Bukhari mengajarkan ”Ahabbu al-din ila Allah al-hanifiyyah al-samhah (Agama yag paling dicintai Allah adalah Ajaran yang lurus dan Toleran). Mengenai siapa yang benar dan salah biarlah Allah yang menjadi Hakim tertinggi atasnya di akhirat kelak. Dalam konteks kehidupan dunia, perdamaian harus jadi prioritas dengan kita semua ikut serta dalam menjaganya. Perbedaan baik ras maupun agama dengan formula “bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam persaudaraan” harus bisa kita jadikan sebagai “jembatan emas” untuk saling menguatkan dan bersatu padu. Dengan demikian perbedaan akan tampil sebagai produsen peradaban baru yang cinta perdamaian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Populer

Bujang Lapok

Bujang Lapok
Bersama Feri, Ari, Fitrah dan Rudi